Pasar Atas & PasarBawah

Pasar Bawah Bukittinggi

Pasar Bawah Bukittinggi

Pasar Atas Bukittinggi

Pasar Atas Bukittinggi

Pasar Atas dan Pasar Bawah

Banyak orang berwisata ke sebuah pasar merupakan keharusan. Di Bukittinggi, Anda bisa menuntaskan hasrat berwisata di pasar karena kota ini memiliki dua pasar yang layak untuk dikunjungi, yaitu Pasar Atas atau warga setempat biasa menyebutnya dengan Pasar Ateh dan Pasar Bawah. Sesuai dengan namanya, Pasar Atas berada di posisi yang paling tinggi, persis tepat di depan ikon Kota Bukittinggi, Jam Gadang. Di Pasar Atas, umumnya didominasi oleh para pedagang yang menjual cinderamata khas Bukittinggi, seperti gantungan kunci, kaos, gelang, kalung, hiasan rambut, kaca mata dan pernak-pernik lain yang terbuat dari bahan dasar kayu maupun metal.

Selain itu, di Pasar Atas juga tersedia aneka macam kain sulam dan kain songket yang bisa Anda bawa pulang. Kain-kain sulam dan songket yang ada di Pasar Atas merupakan hasil dari tangan-tangan terampil pengrajin di Bukittinggi. Untuk kain sulam memiliki harga yang bervariasi antara Rp 250.000 hingga Rp 700.000, tergantung dari jenis bahan dan banyaknya sulaman. Sedangkan untuk kain songket harganya lebih mahal, yakni antara Rp 700.000 sampai Rp 2 juta. Perbedaan harga ini tergantung dari tingkat kesulitan pembuatan kain.

Sementara itu, Pasar Bawah merupakan pasar tradisional yang berlokasi di bawah Pasar Atas.Umumnya, Pasar Bawah berisi pedagang-pedagang yang membuka toko kelontong, sayur-sayuran, buah-buahan, daging, ikan dan aneka bahan-bahan masakan di dapur. Seperti halnya pasar tradisional lain, saat memasuki lorong-lorong Pasar Bawah memang terkesan becek, terutama di lokasi penjualan sayuran, aneka daging dan ikan. Tapi itu tentu bukan menjadi halangan bagi Anda untuk menikmati nuansa tradisional di pasar ini.

Satu hal yang cukup menarik, di Bukittinggi terdapat Janjang Ampek Puluah, yaitu deretan anak tangga yang menghubungkan antara Pasar Atas dan Pasar Bawah. Meskipun namanya Janjang Ampek Puluah (empat puluh), namun anak tangga yang ada di sana lebih dari empat puluh yang terbagi dalam beberapa bagian. Jika dihitung, total ada 100 anak tangga mulai dari paling atas hingga paling bawah sampai di trotoar. Tapi, nilai 40 itu dihitung hanya dari deretan anak tangga yang paling curam saja. Janjang Ampek Puluah kini menjadi bagian dari sejarah Kota Bukittinggi karena anak tangga ini dibangun pada 1908 saat pemerintahan kolonial. Bahkan, Janjang Ampek Puluah Ampek bisa memberikan inspirasi kepada pencipta lagu Minang Syahrul Tarun Yusuf dengan judul lagu “Andam 0i”.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s