Jembatan Siti Nurbaya

Jembatan Siti Nurbaya_6

Sudah pernah dengar kisah Siti Nurbaya? Sebuah novel yang menceritakan tentang kisah-kasih yang tidak kalah menarik dari Romeo and Juliet itu memang telah menjadi sebuah legenda. Novel karya Marah Rusli tersebut mengandung kritik tajam terhadap adat istiadat dan tradisi di Minangkabau (Sumatera Barat) pada zaman dahulu, serta memaparkan latar sosial secara lebih gamblang.

Untuk menghargai karya besar dari Marah Rusli, Pemerintah Kota Padang mengabadikan judul novelnya pada sebuah jembatan, yang menjadi penghubung antara Kota Padang dengan Bukit Gunung Padang yang terbelah oleh Sungai Batang Arau. Konon, di Bukit Gunung Padang yang ada di seberang jembatan ini terdapat makam tokoh dalam novel, Siti Nurbaya bersama dengan pasangannya, Syamsul Bahri.

Bisa dikatakan, Jembatan Siti Nurbaya ini terletak di kota tuanya Padang. Jika dilihat, akan ada banyak sekali kapal-kapal kayu maupun speedboat yang berjejer di Sungai Batang Arau, baik untuk keperluan menangkap ikan maupun untuk mengantarkan wisatawan ke lokasi diving. Sebelum ada Jembatan Siti Nurbaya, masyarakat dari Kota Padang yang akan ke Bukit Gunung Padang harus menaiki perahu kayu yang oleh masyarakat setempat disebut dengan sampan. Adanya jembatan ini juga telah mengubah perekonomian di Bukit Gunung Padang. Awalnya, orang-orang yang tinggal di bukit ini tergolong dari kalangan orang kurang mampu, sementara saat ini banyak berdiri bangunan yang cukup megah karena akses transportasi yang lebih mudah.

Pada sore atau malam hari geliat aktivitas warga di Jembatan Siti Nurbaya ini begitu terasa. Jika siang hanya ada kendaraan yang lalu lalang, saat malam hari jembatan juga berfungsi sebagai tempat untuk bersantai dan nongkrong sambil mencicipi berbagai panganan yang dijual di sepanjang jembatan, seperti Sate Padang, pisang bakar, jagung bakar dan berbagai minuman.

Keindahan jembatan semakin lengkap di malam hari ketika lampu-lampu jembatan sudah mulai menyala. Jika diperhatikan, kombinasi lampu-lampu ini akan membentuk seperti Rumah Bagonjong atau Rumah Gadang yang merupakan rumah adat masyarakat Minangkabau. Tidak kalah menarik saat menyaksikan keindahan Jembatan Siti Nurbaya pada malam hari dari bawah jembatan. Kombinasi antara jembatan, lampu-lampu, puluhan bahkan ratusan speedboat dan Sungai Batang Arau menjadikannya sungguh mempesona.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s